MARKETING ALA OBAMA

Minggu, 23 November 2008

Kemenangan Obama di Amerika adalah kemenangan spetakuler dalam sejarah kemenangan politik yang demokratis di dunia. Perolehan yang spetakuler itu tentu tidak lepas dari cara yang spetakuler pula.
Dari berbagai bacaan dan sumber yang penulis dapatkan ternyata senjata ampuh kampanye Obama itu bersandar kepada tiga hal :
1. Phone bangking yaitu para tim sukses Obama mengumpulkan dan sekaligus menelpon atau SMS kepada calon pemilih. Dalam rangka memberitahukan harus memilih siapa pada pemilu.
2. Outreach yaitu jumpa dengan para pemilih
3. Canvassin yaitu mendatangi rumah atau areal calon pemilih.

Bagi para sahabat sekalian yang hobi atau punya usaha maka saya pikir cara diatas bisa kita jadikan program marketing usaha kita.
1. Phone bangking : kita menelpon atau sms beberapa orang setiap hari tantang keunggulan pruduk atau jasa yang kita jual. Bisa juga kita SMS untuk memberiatahu promo yang terbaru pada usaha kita.
2. Outreach : mendatangi undangan dari kerabat dan siapa saja yang mengundang kita. Hadir pada acara seminar-seminar dan pertemuan-pertemuan yang melibatkan banyak orang.
3. Canvassin : Buat program silaturrahim dengan orang-=orang yang telah kita kenal. Apalagi untuk orang yang pertama kali kita kenal. Bisa juga mendatangi rumah calon pelangan dengan mengatarkan langsung brusur/ stiker atau lainnya kerumahnya. Bisa juga dengan kartu lebaran.

MENJAGA SIKAP WARA’ SELEPAS RAMADHAN

Rabu, 22 Oktober 2008

Sikap Wara’ adalah sikap berhati-hati terhadap hal-hal yang mendatangkan dosa. Ini merupakan sikap asasi yang dimiliki oleh orang yang bertaqwa. Tak akan ada ketaqwaan tanpa wara’.
Wara’ mepunyai tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.Meninggalkan hal-hal yang syubhat dan sia-sia
2.Meninggalkan hal-hal yang “tidak mengapa” atau hal yang tidak mengandung madarat untuk menghimdari hal-hal yang mengadung madarat.
3.Menghindarkan diri dari segal sesuatu selain Allah SWT

Bagaimana mempertahankan sikap wara’ selepas bulan Ramadhan? Atau upaya pertahanan wara’ selama sebelas bulan. Paling tidak terdapat lima karakter yang melekat pada pribadi yang memiliki sikap wara’
1.Disiplin dan sungguh-sungguh dalam ibadah.
2.Meninggalkan hal-hal yang haram
3.Waspada terhadap perbuatan dosa
4.Menghindari hal-hal yang makruh dan syubhat
5.Senantiasa mencari ridha Allah SWT

Demikianlah sikap wara’ ini harus dipatri dalam jiwa kita agar kita betul-betul sebagai golongan yang bertaqwa. Walhualam bishawab.

7 PERKARA YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA ORANG YANG SAUM (PUASA)

Rabu, 10 September 2008

Dalam sebuah hadistnya Rasulullah Saw menjelaskan kepada kita, bahwa orang berpuasa secara ikhlas kepada Allah Swt, maka akan diberikan 7 perkara kepadanya. Yaitu:
1. Akan dicairkan daging haram yang tumbuh dari badanya (daging yang tumbuh dari makanan haram)
2. Rahmat Allah senantiasa dekat dengannya
3. Diberi oleh Allah sebaik-baiknya Amal
4. Dijauhkan dari rasa lapar dan dahaga
5. Diringankan baginya siksa kubur (siksa yang amat mengerikan)
6. Diberikan cahaya oleh Allah Swt pada hari kiamat untuk menyebrangi titian shirat
7. Allah akan memeberinya kemudahan di Surga

Allhamdulillah sekarang kita berada dibulan ramadhan mungkinkah Allah memberikan kita 7 perkara itu? Wallahualam

10 INDIKASI GAGAL MERAIH KEUTAMAAN RAMADHAN

Sabtu, 30 Agustus 2008

‘Berapa banyak orang berpuasa namun Ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga” (HR. Bukhari dan Muslim)
1. Kurang optimal melakukan “warming up” dengan memperbayak ibadah sunnah di bulan sya’ban.
2. Ketika target tilawah Al qur’an tidak tercapai. Minimal 1 kali khatam. Membaca Al Qur’an penting dibulan Ramadhan karena Al Qur’an diturunkan pada bulan ini..
3. Tidak bisa menahan diri atas penyimpangan mulut dan perkataan seperti membicarakan keburukan orang lain, berkata kasar, adu domba, berdusta dan lain sebagainya. Rasulullah bersabda “ dusta akan menjadikan puasa sia-sia” (Hr. Bukhari)
4. Ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yang haram
5. Ketika malam ramadhan menjadi tak ubahnya dengan malam-malam selain ramadhan. Salah satu cri khas Ramadhan Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan doa-doa tertentu.
6. Jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua nafsunya yang disiang hari ditahannya. Seolah-olah waktu berbuka adalah upaya balas dendam. Puasa pada hakikatnya adalah bagaimana mendidik diri mampu menahan diri dan kehendak (Tarbiayatun Nasf)
7. Ketika bulan ramadhan tidak di optimalkan untuk bayak bersedekah dan ber infaq.
8. Ketika hari-hari menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir lupa dengan memasok ibadah sebanyak-banyaknyam terutama 10 terakhir ramadhan.
9. Ketika Idul fitri dirayakan dengan semangat merdeka. Seperti orang pulang dari penjara. Hari bebas untuk berbuat apa saja kembali. Padahal Sahat Rasulullah bertangiskan air mata pada waktu itu karena berpisah dengan ramadhan.
10. Setelah usai Ramadhan nyari tidak ada lagi ibadah unggulan yang bertahan. Jadilah shalih musiman.

Mungkinkah Ramadhan Tahun ini kita kemali Gagal?

Dikutip dari Majalah Tarbawi edisi 26 Th3/ 30 Nopember 2001

KETIKA SEKOLAH MENJADI INDUSTRI

Jumat, 11 Juli 2008

Sebuah tantangan di era global ini adalah berubahnya segala macam bentuk fungsi sosial menjadi fungsi industri. Semua orang berusaha bagaimana merubah bagaimana yang dahulunya merupakan fungsi sosial menjadi fungsi industri yang akan menghasilkan uang. Jangankan kita bicara yang lain-lain dahulu, lihat saja masalah WC di pasar-pasar itu adalah salah satu bisnis. Inilah dia Industrisasi.
Dalam dunia pendidikan perubahan fungsi ini juga terjadi. Ini dapat dilihat dari banyaknya lahir sekolah-sekolah swasta dikota-kota besar. Sekolah swasta itu menawarkan berbagai macam ragam program, kurikulum , fasilitas dan jaminan.Akhirnya menjadi diminati dan akhirnya lagi tentu sekolah negeripun tak mau pula ketinggalan. Terjadilah perlombaan antaar sekolah negeri dan swasta. Perlombaan program tidak masalah. Namun Biayanya itu... Maka kita tidak lagi mendapatkan lagi pendidikan murah untuk Rakyat.
Berkenaan dengan ini maka saya ingin memberikan tips bagi anda terutama para orang tua yaitu bagaiman memilih sekolah untuk anak anda ketika semua sekolah adalah INDUSTRI.
1. Lihat dulu Visi dan misi sekolahnya
2. Perhatikan program-program yang dilaksanankn di sekolah tersebut
3. Lihat bagai metoda pengajaran dan kurikulum disekolah itu.
4. Apa saja prestasi yang pernah diraih disekolah tersebut
5. Cari tahu berapa jauh mutu lulusan sekolah itu
6. Lihat biayanya berapa
7. Gurunya siapa dan tingakat kemampuanya bagaimana
8. Lokasinya.

Hal-hal diatas adalah indikator untuk memilih sekolah. Kalau ada diantara indikator itu yang tidak cocok bagi anda maka jangan pilih sekolah tersebut. Karena di era Industrilisasi sekarang ini adalah bagaimana kemampuan memilih bagi kita untuk memenuhi kebutuhan kita. Wallahualam bishawab.

LULUS UJIAN, CORET MENCORET!

Minggu, 15 Juni 2008

LULUS UJIAN, CORET MENCORET!
OLEH : INDRA HANAFI

Jalan-jalan di Kota besar pada 14 Juni 2008 disuguhkan dengan aksi-aksi ”kreatif” siswa-siswa kelas 3 SMA yang baru saja mendapatkan info tentang kelulusan dirinya dari SMA. Aksi kreatif mereka membuat saya tidak habis pikir mengapa mesti dilampiaskan dalam bentuk mencoret-coret baju seragam mereka. Baju seragam mereka yang putih bersih dan lambang kesucian sebuah arti pendidikan itu harus dicoret dengan aneka warna. Kenapa siswa-siswa itu tidak mencoret celana mereka saja? Apakah karena celana mereka berwarna biru? Lantas kalau putih akan dicoret juga?. Kalau memang begitu ganti saja tahun ajaran ini baju sekolah harus berwarna biru agar tahun depan kalau lulus mereka tidak coret moret lagi.
Semua orang tua menyayangkan sikap itu. Di televisi pengamat, praktisi pendidikan dan siapapun yang peduli dengan pendidikan, geleng-geleng kepala dengan aksi ini. ” sebuah kelakuan kurang bagus!” Kata seorang tetangga saya yang anaknya juga merayakan kelulusan dengan cara seperti itu. Ketika suatu tempat secara bersamaan ada seorang siswa yang tidak mencoret baju seragamnya sama sekali. Masih bagus bajunya, masih suci begitu, dan sangat jelas indentitas kependidikannya. Saya coba bertanya kepadanya kenapa tidak mencoret bajunya. ” Aku tidak lulus Kak” jawabnya sedih. Terus saya berpikir kalau begitu mencoret adalah lambang kelulusan. Ini berarti sebuah solusi agar gimana tahun depan siswa tidak mencoret baju seragamnya lagi yaitu dengan membuatnya tidak lulus.
Kalau begitu juga coret mencoret berarti menjadi budaya bagi bangsa ini. Karena keberhasilan dunia akademiknya ditunjukkan dengan cara mencoret. Dengan mencoret berarti dia sukses, dengan mencoret berarti dia sukses, dengan mencoret dia akan bahagia dan dengan mecoret dia akan.....................! Kalau begitu dibangsa ini akan terjadi coret mencoret antar sesamanya. Bangsa ini hanya bisa mencoret-coret saja.
Berarti benarlah seperti apa yang dikeluhkan oleh Taufik Ismail sang Penyair Indonesia itu. ”Bangsa kita buta membaca, lumpuh pula dalam menulis”. Karena buta membaca dan lumpuh menulis maka yang bisa akhirnya mencoret saja. Karena kata guru saya dahulu kalau anak tidak pandai menulis dan membaca maka dia pasti mencoret.
Wah saya jadi tidak bisa berpikir, padahal disekolah sudah pasti membaca dan menulis tetapi kenapa harus mencoret ketika lulus. Kalau begini jadinya lebih baik diajarkan saja mereka itu melukis diatas batu agar kelak bisa melukis diatas air. Sama saja!
Akan tetapi mencoret saja tidak begitu, lulus juga menengak minuman keras bahkan pelecehan seksual. Nah memang dasar generasi pencoret! Mencoret Bangsa!

LULUS UJIAN, CORET MENCORET!

OLEH : INDRA HANAFI

Jalan-jalan di Kota besar pada 14 Juni 2008 disuguhkan dengan aksi-aksi ”kreatif” siswa-siswa kelas 3 SMA yang baru saja mendapatkan info tentang kelulusan dirinya dari SMA. Aksi kreatif mereka membuat saya tidak habis pikir mengapa mesti dilampiaskan dalam bentuk mencoret-coret baju seragam mereka. Baju seragam mereka yang putih bersih dan lambang kesucian sebuah arti pendidikan itu harus dicoret dengan aneka warna. Kenapa siswa-siswa itu tidak mencoret celana mereka saja? Apakah karena celana mereka berwarna biru? Lantas kalau putih akan dicoret juga?. Kalau memang begitu ganti saja tahun ajaran ini baju sekolah harus berwarna biru agar tahun depan kalau lulus mereka tidak coret moret lagi.
Semua orang tua menyayangkan sikap itu. Di televisi pengamat, praktisi pendidikan dan siapapun yang peduli dengan pendidikan, geleng-geleng kepala dengan aksi ini. ” sebuah kelakuan kurang bagus!” Kata seorang tetangga saya yang anaknya juga merayakan kelulusan dengan cara seperti itu. Ketika suatu tempat secara bersamaan ada seorang siswa yang tidak mencoret baju seragamnya sama sekali. Masih bagus bajunya, masih suci begitu, dan sangat jelas indentitas kependidikannya. Saya coba bertanya kepadanya kenapa tidak mencoret bajunya. ” Aku tidak lulus Kak” jawabnya sedih. Terus saya berpikir kalau begitu mencoret adalah lambang kelulusan. Ini berarti sebuah solusi agar gimana tahun depan siswa tidak mencoret baju seragamnya lagi yaitu dengan membuatnya tidak lulus.
Kalau begitu juga coret mencoret berarti menjadi budaya bagi bangsa ini. Karena keberhasilan dunia akademiknya ditunjukkan dengan cara mencoret. Dengan mencoret berarti dia sukses, dengan mencoret berarti dia sukses, dengan mencoret dia akan bahagia dan dengan mecoret dia akan.....................! Kalau begitu dibangsa ini akan terjadi coret mencoret antar sesamanya. Bangsa ini hanya bisa mencoret-coret saja.
Berarti benarlah seperti apa yang dikeluhkan oleh Taufik Ismail sang Penyair Indonesia itu. ”Bangsa kita buta membaca, lumpuh pula dalam menulis”. Karena buta membaca dan lumpuh menulis maka yang bisa akhirnya mencoret saja. Karena kata guru saya dahulu kalau anak tidak pandai menulis dan membaca maka dia pasti mencoret.
Wah saya jadi tidak bisa berpikir, padahal disekolah sudah pasti membaca dan menulis tetapi kenapa harus mencoret ketika lulus. Kalau begini jadinya lebih baik diajarkan saja mereka itu melukis diatas batu agar kelak bisa melukis diatas air. Sama saja!
Akan tetapi mencoret saja tidak begitu, lulus juga menengak minuman keras bahkan pelecehan seksual. Nah memang dasar generasi pencoret! Mencoret Bangsa!